Saatnya Membayar Utang

Idealnya, hidup seseorang haruslah terbebas dari utang. Karenanya Alloh menunda hisab orang meninggal jika masih berutang. Oleh karena itu, kalaupun terpaksa berutang, maka harus cermat dalam melakukannya, jangan sampai merugikan kedua belah pihak.

Pengertian UtangIslam menuntut umatnya untuk hidup sederhana, karena ia membawa kepada rasa syukur terhadap apa yang Alloh berikan. Ia juga menghindarkan kita dari perbuatan boros, hingga tak jarang dibelenggu utang. Islam membolehkan seseorang untuk berutang, terutama ketika berada dalam kesempitan hidup atau untuk memenuhi tuntutan hidup lain seperti tempat berlindung, makan-minum dan pendidikan anak.

Namun demikian Rosululloh tidak memotivasi ummatnya untuk membiasakan diri berutang. Justru sebaliknya, Rosululloh memerintahkan ummatnya untuk senantiasa berlaku hemat dan sederhana. Dengan kesederhanaan ini seorang Muslim tidak perlu lagi berutang, lebih-lebih Nabi sendiri tidak suka bila seorang Muslim membiasakan berutang.

Utang Bagi Umat Islam

Utang dalam pandangan seorang Muslim yang baik merupakan kesusahan di malam hari dan suatu kerendahan di siang hari. Oleh sebab itu, Rosululloh senantiasa berdo’a.

“Ya Robb! Aku berlindung diri kepada-Mu dari jeratan utang dan dalam kekuasaan orang lain.” (HR. Abu Dawud) 

Itulah do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Nabi . Begitu pentingnya terhindar dari utang hingga beliaupun meminta
perlindungan kepada Alloh dari masalah ini.

Sesungguhnya memiliki banyak utang akan mendatangkan kefakiran dan hilangnya keberkahan dari harta yang ada, serta mengingatkan kepada kehancuran dan kerugian. Sebagian orang ada yang memiliki penghasilan jutaan rupiah, namun seringkali mengeluhkan lilitan utang. Hal ini dikarenakan buruknya manajemen keuangan sehingga menjatuhkan mereka ke lembah sistem kredit dalam membeli barang-barang mewah. Tambal sulam dan gali lubang semakin lebar, hingga akhirnya menyulitkan hidupnya.

Ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama dengan berbagai tuntutan dari pihak pengutang yang tidak seimbang dengan pendapatan. Hal ini tidak lain dikarenakan ifroth (tindakan berlebih-lebihan). Padahal Alloh telah berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (amat pelit) dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya (amat royal tanpa perhitungan). Karena itu akan menjadikanmu tercela dan menyesal” (QS. Al-Isro’: 29) dan “Dan orang-orang yang jika membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir .‘ (QS: Al-Furqon[25]: 67)

Untuk itu, sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita memiliki pemahaman mengenai masalah ini. Sesuatu yang mubah bisa sangat bermanfaat, namun juga bisa sangat membahayakan diri kita. Mudah-mudahan dengan mempelajarinya kita dapat memposisikan diri dengan baik dalam aktifitas mu’amalah tersebut. Allohu ta’ala a’lam.

Updated: 05/10/2012 — 1:54 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme