Utang-Piutang Dalam Tinjauan Islam

Dalam suatu waktu dan saat tertentu di kehidupan sehari-hari, seseorang atau bahkan kebanyakan orang mungkin saja tertimpa suatu kesulitan atau kesempitan hidup, yang membuatnya harus berutang atau meminjam sejumlah uang kepada pihak lain dalam nominal tertentu. Utang-piutang atau pinjam-meminjam ini terjadi tentunya bila ada pihak yang membutuhkan (yang berutang atau meminjam) dan pihak yang dibutuhkan (yang memberikan piutang atau yang meminjamkan).

Hati-hatilah Dengan UtangKemudian bila ada suatu keterlambatan pembayaran, sering terdengar selorohan, “Utang ya utang, harus dibayar, saudara ya saudara, lain lagi masalahnya!”. Tidak jarang terjadi konflik, bentrokan bahkan dendam kesumat yang berkepanjangan, hanya karena transaksi utang-piutang tersebut.

Sebagai agama yang juga mengatur hubungan interaksi sosial (mu’amalah) antar manusia, Islam memberikan tuntunan yang lengkap tentang utang-piutang tersebut, yaitu dalam bingkai perintah Alloh untuk tolong-menolong dalam kehidupan, tidak terbatas hanya dalam masalah harta dan perdagangan saja.

Alloh berfirman: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”(QS. al-Ma’idah [5]: 2)

Berikut di antara tuntunan dan panduan Islam tentang utang-piutang:

Definisi Utang 

Utang-piutang dalam fiqih Islam diistilahkan dengan term al-qordh. Secara etimologi (bahasa), al-qordh berarti al-qoth artinya memotong, atau al-hadd, artinya batasan. Karena harta yang diserahkan kepada orang yang berutang merupakan potongan dari harta orang yang memberikan utang dengan batasan atau nominal tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula.

Sedangkan secara syar’i atau terminologis, al-qordh berarti menyerahkan harta atau sejumlah uang sebagai bentuk pertolongan kepada pihak lain yang akan memanfaatkannya, kemudian akan dikembalikan lagi sesuai dengan padanan nominalnya, tidak bertambah dan tidak juga berkurang.

Maksudnya, peminjam memberikan utang berupa sesuatu yang menjadi hak miliknya kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai tempo perjanjiannya dengan jumlah nominal yang sama.

Hukum Utang

Pada dasarnya hukum utang-piutang diperbolehkan (ja’iz) berdasarkan dalil al-Qur’an, as-Sunnah, konsensus ulama (ijma’) dan analogi (qiyas).

Dalil a-Qur’an adalah firman Alloh:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Alloh dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), maka Alloh akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan pelipatgandaan yang banyak.” (QS. al-Baqoroh [2]: 245)
Adapun dalil dari as-Sunnah, antara lain diriwayatkan bahwa Nabi pernah meminjam seekor unta kepada seseorang. Kemudian memerintahkan Shahabatnya untuk  mengembalikannya dengan unta yang lebih baik karena tidak ditemukan yang semisalnya. (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Rosululloh juga bersabda:

“Setiap Muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya sebanyak dua kali, maka seperti orang yang bersedekah satu kali”(HR. Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil)

Sedangkan dari ijma’ atau konsensus ulama, maka para ulama telah bersepakat bulat (ijma’) tentang disyariatkannya utang-piutang atau pinjam-meminjam, al-Wazir bahkan berkata:

“Mereka (ulama) telah bersepakat bahwa utang-piutang termasuk bentuk pendekatan diri kepada Alloh (taqorrub) dan akan mendapatkan pahala.”

Adapun dari analogi (qiyas), dinyatakan bahwa utang-piutang dapat dikategorikan sebagai bentuk sedekah yang bermanfaat seperti pinjam-meminjam (min jins at-tabarru’ bi manafl’ ka al ‘ãriyah). Karena itu, disyaratkan tidak boleh adanya kelebihan pembayaran (seperti renten, bunga atau riba), karena tidak dikategorikan sebagai jual-beli (ba’i).

Walaupun hukum asalnya boleh, dalam Islam, orang yang memberikan utang atau pinjaman kepada orang lain terlebih yang sedang dalam kondisi sangat membutuhkan adalah dianjurkan dan sangat disukai (mandub), karena terdapat pahala yang besar di dalamnya.

Rosulullloh bersabda:

“Barangsiapa yang memudahkan kesulitan seorang Mukmin ketika di dunia, maka Alloh akan memudahkannya dari kesulitan akhirat. “ (HR. Muslim)

Pada saat isro mi’roj, Rosululloh diperlihatkan pintu surga, dimana tertulis bahwa sedekah akan dibalas 10 kali lipat, sedangkan transaksi utang-piutang dibalas 18 kali lipat. Maka Rosululloh bertanya kepada Jibril, “Mengapa transaksi utang-piutang lebih mulia dari sedekah?” Jibril menjawab:

“Karena orang yang meminta ia masih memiliki sesuatu, sedangkan orang yang berutang tidaklah berutang kecuali karena hajat kebutuhannya.” (HR. Ibnu Majah)

Agar Piutang Menjadi Amal Sholeh

Agar harta benda atau uang yang dipinjamkan atau diutangkan (piutang) bernilai pahala dan dikategorikan sebagai amal sholeh, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak yang memberikan utang, antara lain:
1. Harta yang diutangkan berasal dari harta yang jelas kehalalannya, bukan harta haram atau yang tercampur dengan yang haram.

2. Pemberi piutang tidak mengungkit-ungkit atau menyakiti penerima utang, baik dengan kata-kata menyakitkan ataupun dengan perbuatan yang tidak mengenakkan.

3. Pemberi piutang berniat mendekatkan diri (taqorrub) kepada Alloh dengan penuh keikhlasan. Tidak ada maksud pamer (riya’) atau mencari popularitas (sum’ah) yang ingin didengar kebaikannya oleh orang lain.

4. Tidak ada tambahan manfaat atau keuntungan, termasuk tambahan nominal pembayaran bagi pemberi utang.

Refleksi Tentang Utang 

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, telah diketahui bahwa hukum utang-piutang adalah boleh, bahkan bisa meningkat menjadi mandub atau mustahab.

Walaupun demikian, Islam selalu konsisten memerintahkan kaum Muslimin menghindari utang dengan seoptimal dan semaksimal mungkin. Maka jika memiliki kemampuan sebaiknya ia membeli secara tunai. Karena utang dapat menjadi penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Utang juga terkadang dapat membahayakan akhlak, sebagaimana sabda Rosululloh :
“Sesungguhnya bila seseorang berutang, maka ia sering berkata lantas berani berdusta, dan berjanji lantas memungkirinya.” (HR. al-Bukhori)

Rosululloh pernah menolak untuk mensholatkan jenazah orang yang diketahui masih meninggalkan utang dan tidak meninggalkan harta warisan untuk membayarnya. Rosululloh bersabda:
Seorang yang mati syahid akan diampuni semua dosanya, kecuali utangnya (sampai dibayarkan).”(HR. Muslim)

‘‘Jiwa seorang Mukmin bergantung pada utangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan berutang satu Dinar atau satu  Dirham maka dibayarkan (dengan
diambilkan) dari kebaikannya; karena disana tidak ada lagi Dinar dan Dirham.” (
HR. Ibnu Majah)
Oleh karena itu, bila seseorang telah berutang, khususnya karena kondisi yang mendesak atau darurat, maka ia wajib melunasinya dengan cara yang baik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rosululloh. Yaitu dengan melunasinya tepat pada waktu yang telah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak (pemberi dan penerima utang), melunasi utang di rumah atau tempat tinggal pemberi utang, dan etika-etika lainnya.

Membayar utang juga sebaiknya disegerakan, jangan ditunda-tunda, dan jangan lupa berdoa memohon pertolongan Alloh untuk memiliki kemampuan membayar.
Di antaranya berdoa dengan:

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan rasa malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan perbuatan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan orang lain.” (HR. Abu Dawud)
Atau berdoa dengan:

“Ya Alloh, cukupkan kepada diriku dengan (harta) yang Engkau halalkan, bukan dengan yang Engkau haramkan, dan penuhilah keperluanku dengan anugerah-Mu (bebas) dari selain Engkau. (HR. at-Tirmidzi) 

Semoga Alloh memudahkan pembayaran dan pelunasan utang kita bila memang memiliki utang, dan menghindarkan kita dari lilitan utang yang menjerat. Aamiin….

 

Updated: 08/11/2012 — 7:54 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme