Tragedi Muslim Rohingya

Rohingya adalah grup etnis yang mayoritas beragama Islam di Negara Bagian Rakhine Utara di Myanmar Barat. Populasi Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine (sebelumnya disebut Arakan).

Derita Muslim RohingyaKasus kekerasan yang menimpa Muslim Rohingya telah banyak mendapat perhatian dan kecaman dunia internasional bagi pemerintah Myanmar. Di Indonesia pun, simpati dan empati serta dukungan terhadap mereka terus mengalir tiada henti.

Setelah berpuluh tahun mengalami diskriminasi, kaum Rohingya kini tidak punya kewarganegaraan. Pemerintah Myanmar pun membatasi gerak mereka dan tidak memberi hak atas tanah, pendidikan dan layanan publik. Munculnya status tanpa kewarganegaraan ini salah satunya disebabkan oleh peperangan, pernikahan sesama orang tanpa status warganegara dan perdagangan orang.

Menurut badan urusan migrasi dan imigran PBB, UNHCR, sekitar satu juta orang Rohingya kini diperkirakan hidup di luar Myanmar, tapi belum ada negara ketiga yang bersedia menerima mereka.  Meskipun aparat keamanan berhasil meredam kerusuhan, puluhan-ribu orang masih berada di kamp-kamp penampungan.

Etnis Rohingya dan Rakhine kerap saling tuduh soal siapa yang pertama kali melakukan serangan. Bentrokan menyusul insiden pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita pemeluk Budha setempat yang diduga dilakukan salah satu warga Rohingya. Pembalasan pun dilakukan oleh massa Rakhine, 10 orang Muslim tewas pada awal Juni lalu.

Kenapa Muslim Rohingya Ditindas

Walaupun Myanmar mencapai kemajuan besar di banyak bidang, namun kondisi etnik minoritas  sangat menyedihkan. Aparat keamanan yang seharusnya melindungi setiap warga malah melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine. Bahkan jumlah insiden yang dilaporkan semakin meningkat.

Namun pemerintah Myanmar membantah adanya pelanggaran apapun yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap kaum Rohingya. Benjamin Zawacki, periset Myanmar untuk Amnesty International mengatakan “Kami memonitor sejak 2005 ketika kami mengeluarkan sebuah laporan panjang tentang diskriminasi dan penindasan sistematik yang dialami kaum Rohingya,” tuturnya.

Zawacki mengatakan, penindasan kaum Rohingya oleh aparat keamanan Myanmar umumnya berbentuk penangkapan massal dan perlakuan buruk selama berada di tahanan. Inti dari masalahnya adalah kaum Rohingya tidak dianggap sebagai warga Myanmar, bahkan sering dilukiskan sebagai teroris atau pendatang oleh media Myanmar.

Apalagi belum lama ini Presiden Thein Sein mengatakan bahwa satu-satunya solusi adalah mengirim orang-orang Rohingya ke kamp pengungsi atau mengirim mereka ke negara ketiga.

Indonesia Harus Bantu Muslim Rohingya

Pembantaian terhadap etnik Rohingya di Myanmar adalah bentuk penindasan dan pelanggaran HAM yang tentunya membuat malu ASEAN sebagai sebuah komunitas. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, seharusnya pemerintah kita dapat berfungsi mendesak ASEAN dan PBB untuk menyelesaikan masalah yang dialami muslim Rohingya di Myanmar.

Ada banyak pelanggaran yang dilakukan junta militer Myanmar terhadap etnis minoritas Rohingya. Penindasan itu telah berlangsung sejak lama walaupun baru akhir-akhir ini menjadi perhatian dunia. Selain itu juga ada regulasi yang mengarah ke tindakan genosida. Aturan  tersebut antara lain pelarangan menikah bagi perempuan muslim di bawah 25 tahun dan larangan menikah bagi laki-laki muslim  di bawah 30 tahun.

Kebijakan ini sudah berlangsung sekian lama dan mengakibatkan penderitaan yang luar biasa. Namun memang baru bulan-bulan ini terjadi pembunuhan dan pembakaran toko dan rumah penduduk Rohingya.

Sudah saatnya kita membantu saudara kita sesama muslim yang ada disana, minimal lewat doa. Karena saat ini sudah terjadi begitu banyak kedzaliman yang menimpa umat Islam, maka sudah waktunya bagi umat Islam di seluruh dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya untuk bersatu, karena tindakan makar musuh Islam sudah begitu nyata. Mau tunggu sampai kapan lagi saudaraku???

Updated: 02/08/2012 — 2:08 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme