Surat Untuk Saudariku

Teruntuk saudariku muslimah, kutulis untaian-untaian kata ini hanyalah sebagai pengingat dan penggugah untukmu. Atau mungkin lebih dekat kepada nasehat, karena kuyakin engkau pun tahu bila dien(agama) itu adalah nasehat kepada Alloh, rasul, juga bagi pemimpin dan seluruh kaum muslimin.

Generasi Islam Yang MuliaSaudariku…, ketahuilah!!!

Sesungguhnya dirimu adalah benteng dari sekian banyak benteng-benteng Islam. Salah satunya adalah membentuk keluarga yang Islami serta membina tunas-tunasnya. Dan semua itu tidak pantas bila mereka harus diasuh oleh selainmu.

Maka gunakanlah olehmu hijab Islami yang lebar dan tidak transparan. Kemudian ikutilah hal itu dengan menutup seluruh wajahmu.

Namun saudariku…. ini bukanlah berarti akhir dari perjalanan, justru baru permulaan. Perlihatkanlah olehmu hal itu secara terang-terangan di hadapan masyarakat, dan itu akan menjadikanmu membentuk barisan yang Islami.

Genggamlah dengan erat olehmu nilai-nilai Islam, baik perintah maupun larangannya, buktikanlah ia dalam setiap gerak dan langkahmu di hadapan keluargamu dan masyarakat.

Ketahuilah wahai saudariku, bahwa cobaan serta ujian-ujian  akan senantiasa berada di sekelilingmu. Engkau akan berdiri di antara dua pilihan, di antara orang yang akan memberikan kepadamu seluruh kenikmatan dunia dan di antara orang yang tidak memiliki apapun kecuali hanya agamanya namun dia berharap kau menjadi isterinya saja. Maka di saat itu, ingatlah hadist al Musthafa Rasululloh, “Jika telah datang kepadamu orang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia”.

Cukuplah bagimu gambaran yang indah dari kehidupan wanita-wanita para shahabat ketika Rasululloh menyelesaikan pernikahan salah seorang dari mereka dengan mahar sekedar cincin dari besi atau dengan ayat-ayat at Qur’an yang mereka hafal.
Saudariku…, engkau akan diuji dengan manusia yang terdekat darimu. Baik itu suamimu atau anak-anakmu. Suatu saat salah satu dari mereka atau keduanya, terpaksa harus meninggalkanmu untuk pergi dari tempat tinggalnya menyambut seruan agamanya atau untuk berjihad di jalan Alloh di satu tempat.

Maka janganlah engkau bersedih, karena dunia betapa pun terasa panjang namun hari-harinya terhitung dan sangatlah pendek. Dan kelak engkau akan menemui keduanya untuk berkumpul bersama dengan penuh kemenangan dan kenikmatan di Jannah, karena yang demikian adalah Islam dan puncak kejayaannya.

Saudariku, . . . niscaya engkau akan merasakan kerasnya kehidupan, dan rumahmu akan jauh dari berbagai kelezatan dunia. Namun ingatlah keadaan rumah tangga Rasululloh yang harus melalui tiga bulan berturut-turut tanpa ada nyala api sedikit pun di dalamnya.

Maka janganlah engkau menjadi bimbang atau melemah wahai saudariku…! di hadapan ujian maupun cobaan-cobaan yang ada. Karena ketahuilah! setiap kali keimanan seseorang bertambah, maka semakin keras pula cobaannya. lngatlah selalu olehmu hadist Rasululloh, “Sesungguhnya manusia yang paling keras cobaannya adalah para anbiya kemudian orang-orang yang shalih”.
Dan setiap ujian yang menimpa diri seorang mukmin pada diri, harta, atau anaknya akan diberikan balasan hingga dia keluar dari dunia dan dia seperti pertama kali dilahirkan oleh ibunya tanpa dosa.
Ketahuilah wahai saudariku! Sesungguhnya kehidupan dunia tidak lain hanyalah kehidupan ujian dan cobaan. Maka, barangsiapa yang bersabar dan bersyukur, dia akan bersama orang-orang yang Alloh beri nikmat dari golongan Ash-Shadiqin dan syuhada dalam Jannah yang kekal di sisi Raja Yang Berkuasa.

Semoga Alloh menjadikan kita semua dan engkau, orang-orang yang senantiasa mendengarkan firman-Nya dan mengikuti kebaikannya.
(Abu Rumaisha)

Surat Hatiku

Saudariku…

Sepucuk surat Ilahi

Tersimpan di dalam hatiku

Dengan cinta dan kasih sayang

Kutitipkan ke dalam lubuk hatimu

Cinta suci hanya harap ridha Ilahi

Kasih sejati tak harap surga duniawi

Surat kuhulur kedalam relungmu

Tentang kisah Debu-debu jalanan

Yang hinggap-terbang mencari teman pejuang sejati

Tentang kisah mata pena dan pedang

Yang tak pernah hilang menjadi saksi pejuang hakiki

Kisah yang tertanam beribu tahun yang lalu di atas bumi

Bersama Hajar, ‘Asiyah, Khadijah, dan Khansa’

Yang tak berhenti-diam harapkan asa Robbnya

Yang korbankan harta-jiwa demi merengkuh syurga-Nya

Kini… bumi yang menua tlah berkata: Dimana putri-putri sang pejuang Hajar

Dimana putri-putri sang penyabar ‘Asiyah

Dimana putri-putri sang penyayang Khadijah

Dimana putri-putri sang pemberani Khansa’

Jangan belenggu aku tuk menemui mereka

Si tua mengerutkan dahinya

Pupus sudah kerinduannya

Sebab.., putri-putri mereka

Sudah hilang diterkam masa

Sudah lapuk dibuih dunia

(Bogor, HSY 250484)

[ad code=2 align=center]

Updated: 03/07/2012 — 9:57 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme