Sepak Terjang Syiah Nushoiriyah Sepanjang Sejarah

Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair an-Numairi, adalah tokoh pendiri gerakan ini sekaligus sebagai propagandis pertama ajaran syiah Nushoiriyah. Kemudian pemimpin dan propagandis kedua adalah Muhammad bin Jundab. Setelah itu tongkat estafet kepemimpin Nushoiriyah dilanjutkan kepada Abu Muhammad Abdulloh bin Muhammad al-Hanan al-Janbalani. Propagandis Nushoiriyah yang cemerlang yaitu pada masa kepemimpinan Husain bin Ali bin Husain bin Hamdan al-Khusaibi.

Al-Khusaibi menyebarkan dakwahnya dan memimpin sektenya, dan menjadikan Baghdad sebagai pusat gerakannya. Setelah itu al-Khushaibi kemudian berkeliling ke berbagai wilayah dalam rangka menyebar luaskan jaringan sektenya. Al-Khushaibi adalah tokoh yang menyusun dan menuliskan dasar-dasar ajaran Syiah Nushoiriyah.

Perkembangan Syiah Nushoiriyah dari Masa ke Masa

Pada masa Abbasiah saat itu kekuasaan dikendalikan oleh Bani Buwaih, sebuah marga Syi’ah ekstrim dari Persia. Sebagai penguasa beraliran Syi’ah ekstrim, Bani Buwaih mempergunakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk mendukung semua gerakan Syiah, termasuk Nushoiriyah dan Syiah lsma’iliyyah. Maka selama 113 tahun masa kekuasaan Bani Buwaih Nushoiriyah mendapatkan keleluasaan untuk bergerak dan menyebar luaskan ajarannya.

budaya syiahSetelah itu pada akhirnya, Nushoiriyah memusatkan seluruh kegiatannya di kota Halb (Alepo) di Suriah. Hal itu dikarenakan gerakan Nushoiriyah sangat didukung daulah Hamdaniyah, bahkan berkat Saifud Daulah pula, Nushoiriyah mampu menyebarkan ajarannya ke Suriah, Mesir, Irak, dan negeri-negeri non-Arab lainnya. Pada saat yang sama, kepemimpinan daulah Abbasiyah di masa khalifah Al-Mustakfi billah semakin melemah. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh penguasa Bani Buwaih di Irak, Ahwaz, dan Persia untuk menyebarluaskan paham Nushoiriyah. Setelah sukses di Suriah kemudian gerakan Nushoiriyah memusatkan pergerakan di Baghdad dengan tokoh kuncinya yaitu Ali Al Jasri. Namun tidak berselang lama pusat gerakan Nushoiriyah di Baghdad hancur bersamaan dengan dibumi hanguskannya kota Baghdad oleh pasukan Mongol pimpinan Hulakho Khan, tahun 656 H.

Makar Syiah Nushoiriyah Terhadap Kaum Muslimin

Saat pasukan Mongol pimpinan Hulakho Khan menghancurkan Baghdad maka pusat kegiatan dan Nushoiriyah sepenuhnya berpindah ke Halb, Suriah. Saat mereka berpindah ke Halb, suku-suku Muslim Kurdi dan Turki menggempur Nushoiriyah di Halb karena mereka melihat kekufuran dari kelompok tersebut. Sehingga mereka berpindah ke propinsi Ladzikiyah.

Setelah kepemimpinan Nushoiriyah dipegang oleh gubernur Hasan Makzun as-Sinjari an-Nushoiri. Nushoiriyah membalas kekalahan pada waktu yang lalu, dengan kekuatan 50.000 prajurit ditambah gabungan sekte Syiah Ismailiyah Aghan Khan, Ia berhasil mengusir suku-suku Kurdi dan merebut kembali gunung Nushoiriyah dan Kalbiyah serta benteng Abu Qubais di propinsi Ladzikiyah, dan mendesak suku Kurdi sampai ke wilayah ‘Acre, Lebanon. Kemudian menjadikan pusat gerakannya berada di benteng Abu Qubais.

Tetapi anehnya ketika terjadi perang Salib dan serangan bangsa Mongol, kelompok Nushoiriyah tanpa diminta langsung lari meninggalkan daerah pegunungan propinsi Ladziqiyah dan berpindah ke daerah-daerah pantai. Perpindahan kelompok ini ternyata membantu pergerakan tentara Salib Eropa dan tentara musyrik Mongol untuk menghancurkan pasukan Islam di Suriah, Lebanon, dan Palestina.

Ketika pasukan Salib Eropa dapat diusir dari bumi Syam oleh pasukan Islam, maka kelompok Nushoiriyah kembali berbondong-bondong ke pegunungan dan melancarkan makar mereka secara sembunyi-sembunyi untuk menghancurkan kekhalifahan. Saat mereka memiliki kesempatan, mereka melancarkan serangan secara terbuka kepada umat Islam, pada saat yang bersamaan tentara Mongol pimpinan Timur Lank (1336-1405 M) menyapu dunia Islam. Kelompok Nushoiriyah bahu-membahu dengan Timur Lank yang beraliran Syi’ah ekstrim untuk menghancurkan kaum muslimin di Syam dan Irak. Timur Lank melakukan perusakan, pembakaran, dan pembantaian keji terhadap kaum Muslimin saat menaklukkan Damaskus dan Baghdad.

Dalam AI-Bidãyah wa AI-Nihãyah dijelaskan bahwa kelompok Nushoiriyah berulangkali melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap kekuasaan Islam. Di antara contohnya adalah pemberontakan besar Nushoiriyah tahun 717 H di negeri Syam di bawah pimpinan seseorang yang mengaku sebagai Muhammad bin Hasan AI-Mahdi al Qaim bi-Amnillah. Mereka berhasil merebut propinsi Jabalah, membantai warganya, meruntuhkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai warung-warung minuman keras.

Syiah Nushoiriyah dan Suriah

Dukungan Prancis terlihat jelas kepada sekte Nushoiriyah ini agar mereka mendapatkan kekuasaan di Suriah. Saat penjajah Perancis menduduki Suriah tahun 1920 M, pemimpin dinas intelijen Perancis kapten Blondel berkumpul dengan para tokoh Nushoiriyah di Ladzikiyah. Mereka sepakat untuk menjadikan propinsi Ladzikiyah (pusat gerakan Nushoiriyah) sebagai negara merdeka dan memisahkan diri dari negara Suriah. Maka kelompok Nushoiriyah memproklamasikan berdirinya negara Ladzikiyah, dengan Sulaiman Al-Mursyid (pemimpin besar Nushoiriyah saat itu) sebagai presidennya.

Pada tahun 1938 M, presiden Nushoiriyah, Sulaiman Al-Mursyid, meresmikan pengangkatan para hakim dan pembentukan angkatan bersenjata Nushoiriyah untuk mempertahankan negara Nushoiriyah Ladzikiyah. Dan berketepatan negara Suriah telah berhasil meraih kemerdekaan dan mengusir penjajah Perancis, kemudian pemerintah Suriah yang baru segera memadamkan pemberontakan Nushoiriyah di Suriah. Bukan hanya itu pasukan Suriah berhasil meruntuhkan negara Ladzikiyah dan menangkap Sulaiman Al-Mursyid pada tahun 1946 M (1366 H). Setelah itu Nushoiriyah bergerak di bawah tanah untuk menumbangkan pemerintahan Ahlus Sunnah di Suriah. Secara sembunyi-sembunyi Nushoiriyah meminta kepada Prancis untuk tetap mempertahankan pasukannya di Suriah, dan mereka siap membantu untuk masuknya kembali Prancis ke Suriah.

Pada tahun 1967 kelompok Nushoiriyah dengan bantuan Yahudi berhasil melakukan kudeta militer dan menjadi penguasa Suriah lewat kendaraan partai sosialis Baath. Upah atas bantuan Yahudi kepada mereka adalah dengan menyerahkan dataran tinggi Golan secara cuma-cuma kepada negara Yahudi Israel. Kudeta militer mereka berjalan dengan sukses dan mengantarkan pemimpinnya, Hafez Al-Assad menjadi perdana menteri, kemudian menjadi presiden dan tanggal 22 Februari 1971 sampai 10 Juni 2000 M.

Al-Assad kemudian menjadi diktator bertangan besi yang menjadikan kelompok Nushoiriyah yang hanya 10% dari keseluruhan penduduk Suriah, menjadi pemegang kendali semua urusan (politik, ekonomi, militer, pendidikan, kebudayaan, keagamaan) di Suriah. Sejak saat itulah, pembantaian demi pembantaian keji mereka lancarkan terhadap mayoritas penduduk Suriah yang beragama Islam dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Setelah Hafez al-Assad mangkat kekejaman syiah Nushoiriyah ini berlanjut kepada rezim Bashar al-Assad, dan perihal ini merupakan sebuah bukti dan dendam kesumat Nushoiriyah terhadap kaum Muslimin yang dilampiaskan dari beberapa abad yang silam.

Semoga Alloh menolong kaum Muslimin di Suriah…

[ad code=2 align=center]

Updated: 03/07/2012 — 10:10 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme