Risalah Dakwah Islamiyyah

Dakwah Adalah Wajib

Hal pokok yang harus diketahui oleh setiap orang adalah bahwa risalah Islam tidak sampai kepada kita melalui para filosof dan pemikir, para pakar hukum dan perundang-undangan, para penguasa dan pemimpin politik, para sosiolog dan psikolog serta tidak pula dari adat istiadat dan budaya. Sebaliknya dakwah Islam sampai kepada kita melalui dakwah Nabiyyulloh dan Rasululloh dengan membawa wahyu yang jelas dan sempurna. “Dan (juga karena) Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Alloh sangat besar atasmu. “(QS. An—Nisa: 113)

Dakwah Hukumnya WajibManhaj dakwah ini, kitab sucinya dan undang-undang(syariat) yang mengatur kehidupan objek sasarannya, sesungguhnya datang dari Alloh ‘azzawajalla, bukan karya seorang raja, pemimpin, penguasa, rakyat jelata, parlemen atau partai.

Demikian pula, dakwah Islam bukan hasil pemikiran manusia dan juga bukan dan aliran filsafat yang beraneka-ragam. Karena itu, dakwah Islam tidak bekerja untuk kepentingan seorang raja, penguasa, partai atau bangsa tertentu. Dakwah Islam bekerja atas dasar keadilan ilahiyyah dan undang-undang robbani, baik dalam hal pemberian, perhitungan, ibadah dan muamalah serta hukum dan seluruh bidang kehidupan.

Dakwah Islam menilai niat yang iklas dan menimbang usaha serta menghargai karya amal sholeh yang memang berasal dari Rasul tanpa memandang golongan, warna kulit dan keturunan. Dakwah Islam bekerja untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, karena dakwah ini datang dari Sang Pencipta dan Sang Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta.

Dakwah Islam tidak mengajak manusia untuk menyembah individu, atau paham pemikiran suatu aliran, partai, terlebih kepada adat dan budaya. Dakwah Islam merupakan sebuah sistem yang sejalan dengan fitrah manusia, sebuah warisan universal bagi umat manusia dan sebuah hukum yang mengatur alam kehidupan. Dakwah Islam membela kehormatan, kemuliaan, kebahagiaan, kemanusiaan dan nilai-nilainya. Karena itulah sudah seharusnya umat manusia mencarinya, mempelajarinya, membela kehormatannya dan berjuang di jalannya serta berpegang teguh padanya.

Dakwah Islam bukanlah sebuah sistem untuk jangka waktu tertentu dan bersifat temporal, seperti halnya yang berlaku pada kebanyakan agama lain atau berbagai aliran yang muncul dari waktu ke waktu dalam sejarah manusia. Bukan pula satu mata rantai yang muncul untuk menjawab tuntutan kemajuan perkembangan pemikiran manusia serta kematangan akal budinya.

Dakwah Islam bukanlah suatu tata aturan yang dimaksudkan oleh Alloh untuk tujuan, masa dan ruang terbatas, seperti pada agama-agama lain yang mana rahmah ilahiyyah pada masa lalu diturunkan di bagian wilayah tertentu di muka bumi, pada waktu tertentu untuk menghidupkan kegersangan jiwa penghuninya dan menyuburkan ketandusan tanahnya yang telah mati, memberi siraman pada pepohonannya dan mengeluarkan buah-buahannya dari waktu ke waktu dan tempat yang berbeda baik berjauhan maupun berdekatan.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.”(QS. An- Nahl: 36)

Universalitas Dakwah Islamiyyah

Universalitas dakwah dan risalah Islam mulai awal turunnya wahyu secara tegas membantah klaim orang orientalis, sekularis, missionaris, dan penjajah barat yang mengatakan bahwa dakwah Muhammad pada awalnya bersifat lokal. Namun setelah sukses, Ia menyebarluaskan dakwahnya secara internasional. Klaim tersebut dilontarkan oleh kedengkian mereka terhadap Islam hingga mendistorsi(membuat ragu) dan menyebarkan mitos-mitos untuk menodai risalah Islam agar terkesan dakwah nabi Muhammad hanya untuk bangsa Arab. Padahal Rasululloh bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku. Setiap nabi diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia baik yang berkulit merah maupun hitam..” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i)

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap orang diantara umat ini baik yahudi ataupun nasrani yang mendengar dakwahku, lalu meninggal dunia tanpa beriman pada agama yang aku bawa, maka ia akan jadi penghuni neraka.”(HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Universalitas dakwah Islam, kelanggengannya dan sifat dasarnya yang tidak bisa menerima perubahan, penambahan apalagi pengurangan, maka dengan sendirinya penalaran akal dan prinsip keadilan, mengharuskan kaidah-kaidah, hukum-hukum, prinsip-prinsip dan semua yang terkandung di dalamnya akan mampu melahirkan kemaslahatan bagi umat manusia sepanjang masa dan tempat serta dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhaniah mereka.

Risalah dakwah syariah Islamiyyah, tidak akan mengalami kadaluarsa oleh tingkat pencapaian kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Sebab syariah Islamiyyah ini berasal dari Alloh Yang Maha Bijaksana dan Maha Sempurna dan Alloh telah menjadikan syariat ini sebagai penutup syariat-syariat sebelumnya dan hukum-hukumnya senantiasa sesuai dengan masa kapanpun dan di tempat manapun serta siap menghadapi kelangsungannya.

Berakhirnya kenabian juga merupakan penegasan universalitas dakwah dan syariah ini. Di lima benua tidak akan ada lagi wahyu yang diturunkan, atau pengutusan Jibril membawa wahyu atau pengangkatan Rasul hingga hari kiamat. Al-Quran satu-satunya suara yang menggema dari langit di tengah-tengah manusia sebagai undang-undang dan jalan hidup bagi mereka. Seluruh ajarannya menyimpan keotentikan, cahaya dan kekuatan yang menerangi hingga akhir perhitungan.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Betapa beruntungnya mereka yang dianugerahi hidayah sebagai pengemban risalah dakwah robbaniyyah, betapa bahagianya mereka yang meniti jalan dakwah robbaniyyah, betapa merugi dan sengsaranya siapa saja yang bukan bagian dari dakwah robbaniyyah terlebih berpaling dan mencaci dakwah robbaniyyah.

[ad code=2 align=center]

Updated: 07/07/2012 — 1:25 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme