Rintihan Bulan Suci Ramadhan

Alloh memberikan fadhilah dan karunia kepada para makhluk-Nya sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya, jika Malaikat Jibril Alloh unggulkan dari malaikat-malaikat lainnya, Nabi Muhammad dimuliakan dari umat manusia seluruhnya, maka demikian halnya dengan Ramadhan, bulan yang Alloh utamakan dari bulan-bulan lainnya.

Ramadhan Bulan Yang MuliaWalaupun setan dibulan Ramadhan dikekang oleh Alloh, namun bala tentara setan dan kader-kadernya dari golongan manusia tetap beroperasi dan tidak tinggal diam, fakta telah berbicara bahwa banyak dari kaum Muslimin yang justru menjadikan momen bulan Romadhon sebagai ajang untuk bermaksiat, berbuat bid’ah dan melakukan kesyirikan. Allahu al-Musta’an.

Hilanglah hikmah dan tujuan disyariatkannya puasa yaitu membangkitkan ruhani supaya menjadi insan yang bertakwa, namun yang terjadi malah kebalikannya, dengan adanya bulan Romadhon sebagian kaum Muslimin justru menjadi jatuh dan terpuruk ruhaninya. Na’udzubillah!!

Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam sebuah hadist hasan shohih, bahwa Rosululloh disuruh untuk mengaminkan do’a Malaikat Jibril atas kerugian dan kehinaan bagi orang yang memasuki bulan Romadhon namun ia tidak menjadikan bulan tersebut sebagai penghapus dari dosa-dosanya.

Subhanalloh, begitu dahsyatnya doa tersebut, sebuah doa kebinasaan yang diucapkan oleh makhluk suci yang tidak pernah berbuat dosa, dialah Malaikat Jibril, pemimpin para malaikat, kemudian diaminkan oleh seorang makhluk yang paling mulia dimuka bumi ini, pemimpin para rasul dan anbiya.

Bukankah ini suatu peringatan bahkan ancaman keras bagi kita semua selaku orang Muslim? Ironisnya, masih banyak dari kaum Muslimin khususnya di Indonesia yang melakukan aksi maksiat dan penodaan di bulan Ramadhan.

Kesalahan Yang Menodai Bulan Ramadhan

Berikut kami paparkan sebagian dari praktek kebiasaan masyarakat Muslim secara umum di Indonesia yang telah melampaui batasan syar’i:

1. Pensucian diri Jumat (29/7/2011) kompleks masjid Asyuhada di Desa Siwuluh, Kecamatan Bulukamba, Brebes-Jawa Tengah, disesaki ratusan warga. Tua, muda, besar dan kecil, berdesakan tak ingin ketinggalan merasakan guyuran air sumur yang berasal dari sebuah sumur tua di masjid tersebut.

Ritual “bersih diri” ini dilakukan bersama-sama menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Menurut Fatihin (juru kunci sumur), sumur tersebut dikeramatkan karena dibuat seorang ulama besar yang memimpin pembangunan masjid Asyuhada. Entah apa sebabnya, sejumlah orang berpenyakit yang mandi di sumur itu berangsur sembuh. Sejak itu, warga meyakini air sumur tersebut berkhasiat menyembuhkan.

Tak hanya sekedar mandi, banyak warga juga sengaja membawa botol plastik bahkan jeriken untuk diisi air sumur serta dibawa pulang. [sumber:http://berita.liputan6. com/read/346484/jelang-puasa-mandi-di- sumur-keramat]. Adapun di Riau dan Sumbar ritual pensucian diri sebelum Ramadhan disebut Balimau, dalam tradisi ini, masyarakat berarak-arakan membawa tempat limau (campuran air jeruk kasturi, jeruk nipis, potongan daun pandan serta kelopak bunga mawar) yang dihias menarik berisi aneka jenis tumbuhan wangi menuju satu tepian sungai, sesampai di tepian sungai itu, ada penyampaian ceramah agama dari kalangan ulama setempat dan selanjutnya warga yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat mengusapkan limau tersebut ke kepala kemudian membuangnya kealiran sugai itu.

“Kita akan garap tradisi tahunan masyarakat ini, karena sangat unik dan kita optimis bisa menjadi satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini,” kata Bupati Pessel (Pesisir Selatan) H. Nasrul Abit, di Painan. [sumber:http://www. matanews. com/2010/08/09/mandi- balimau-nan-unik-sambut-bulan-suci-Romadhon].

Bukan hanya di Riau saja, namun disana ratusan kemaksiatan dan kesyirikan dijaga, dipelihara dan dikembangkan dengan alasan “melestarikan budaya bangsa”. Semoga Alloh memberikan hidayah…

Sebenarnya pokok permasalahan bukan pada “mandi” atau “adat budaya” nya, namun inti perkara dalam masalah ini adalah niat beribadah dengan tata cara tertentu di waktu tertentu serta mengharap pahala selain dari Alloh. Hal inilah yang menjadikan praktek tersebut (mandi) berubah status hukumnya dari mubah menjadi haram.

Benarkah seperti itu? Ya, karena Islam dan semua yang terkandung di dalamnya berupa aturan serta ajaran diciptakan oleh Alloh, artinya masalah peribadahan itu adalah hak Alloh semata, Dialah satu-satunya yang mengatur tatacara serta menentukan suatu ibadah, dan Islam dengan kandungannya telah lengkap sempurna tertuang di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun adat kebiasaan atau tradisi tidak bisa dijadikan pedoman dalam melakukan suatu ibadah yang baru.

Peganglah rumus dan kaidah yang Rosululloh ajarkan:

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (ibadah) yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Jika memang acara pensucian tersebut ada perintah dan contoh yang dilakukan oleh Rosululloh atau para sahabat (dalam hadist yang shohih), maka kita jangan ragu untuk melaksanakannya, namun tidak ditemukan satu dalilpun yang shohih bahwa ritual ibadah pensucian sebelum Romadhon berasal dari Islam (Rosululloh). Terlebih jika ritual itu dikaitkan dengan khurafat, atau keyakinan-keyakinan lain yang menyelesihi ketauhidan Alloh, maka jelas ini adalah suatu kesyirikan.

2. Ziarah kuburan Kebiasaan yang dilakukan menjelang masuknya bulan Ramadhan dan setelah Ramadhan (ba’da sholat Idul Fitri), yang dilakukan mereka di kuburan biasanya bersih-bersih  disekitar kuburan, kemudian membaca Surat Yasin untuk penghuni kuburan.

Sebagian mereka beranalogi bahwa ziarah ke kuburan sama seperti silahturahmi kepada kerabat keluarga yang telah meninggal. Merekapun meyakini bahwa penghuni kuburan yang diziarahi akan merasa senang jika melihat sanak kerabatnya datang menjenguk mereka, terlebih jika membawa oleh-oleh berupa Surat Yasin yang dihadiahkan buat mereka.

Sehingga jika ada orang dari anggota keluarga yang telah meninggal dan dikuburkan di tempat yang berbeda, maka ziarah (kunjungan) ke kuburan tersebut mesti dilakukan. Kebiasaan inipun hakekatnya adalah melanggar aturan Alloh (baca Islam) yang telah sempurna. Memang ziarah kubur sangat dianjurkan untuk diamalkan, karena bagian dari aturan Islam, namun yang menjadi catatan adalah kaifiyat (tatacara) nya pun harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam, tidak boleh dikarang, diganti atau ditambah.

Membaca al-Qur’an di kuburan atau mengqiyaskan ziarah kubur dengan silaturahmi (kunjungan) kepada si mayit, adalah suatu kesalahan dalam memahami serta mengamalkan ajaran Islam. Rosululloh ketika berziarah ke kuburan tidak pernah membaca Surat Yasin atau kirim hadiah buat si mayit, namun Rosululloh membaca salam dan doa ampunan untuk penghuninya, doa yang Rosululloh ucapkan ketika ziarah kubur adalah:

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni kubur, dari golongan orang-orang beriman dan orang-orang Islam, dan kami insya Alloh menyusul kalian, saya meminta keselamatan kepada Alloh untuk kami dan kalian.”

Semoga Alloh  memberikan hidayah dan istiqomah kepada kita dalam mempelajari, memahami dan mengamalkan Islam.

Allohu ‘alam.

Updated: 16/08/2012 — 2:59 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme