Mendidik Generasi Robbaniy Mencontoh Rosululloh

Berkata seorang penyair: “Keberadaan anak-anak di tengah kami. Laksana buah hati yang berjalan di bumi.”

Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan aib besar bagi keluarga dan kabilahnya. Kepercayaan masyarakat jahiliyah seperti itu mendorong mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut cela dan aib.

Rosululloh teladan ummatPenguburan anak perempuan tersebut dilakukan dengan cara yang sangat sadis tanpa ada ada rasa sayang dan belas kasih sama sekali. Anak perempuan tersebut dikubur hidup-hidup. Mereka melakukan perbuatan terkutuk itu dengan berbagai macam cara. Diantaranya, jika lahir seorang bayi perempuan, mereka sengaja membiarkan bayi itu hidup sampai berusia enam tahun, kemudian si bapak berkata kepada ibu dari anak yang malang tersebut, “Dandanilah anak ini, sebab aku akan membawanya menemui paman-pamannya.” Sementara si bapak telah menyiapkan lubang di tengah padang pasir pasir yang sepi. Lalu dibawalah anak perempuannya ini menuju lubang tersebut. Sesampainya di sana, si bapak berkata kepadanya, “Lihatlah lubang itu! lalu sekonyong-konyong ia dorong anak itu ke dalamnya dan menimbunnya dengan tanah secara sadis dan keji.

Di dalam Al-Qur’an, Alloh telah menyebutkan tentang masalah ini: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-NahI: 58- 59) 

Mencontoh Kepribadian Rosululloh

Di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang paling bejat inilah Rosulullloh muncul dengan membawa agama yang agung ini, agama yang menghormati hak-hak perempuan, baik statusnya sebagai ibu, istri, anak, kakak atau pun bibi. Putri-putri beliau begitu banyak mendapat curahan kasih sayang dari beliau . Apabila Fatimah datang, beliau akan segera bangkit menyambutnya sambil memegang tangannya, lalu menempatkannya di tempat duduk beliau. Demikian pula bila Rosululloh datang mengunjungi Fatimah, ia segera bangkit menyambut beliau sambil menuntun tangan beliau dan menciumnya serta menempatkan beliau di tempat duduknya. (Sebagaimana tertera dalam hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An—Nasa’i)

Pada suatu hari Rosululloh pernah bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku dan barang siapa yang mengganggunya berarti dia mengganggu diriku.” (HR. Bukhari)

Meskipun beliau begitu sayang kepada putri-putrinya dan begitu memuliakan mereka, namun beliau rela menerima talak (perceraian) kedua putri beliau, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum dari suami mereka, yaitu ‘Utbah dan Utaibah putra Abu Lahab setelah turun surat Al-Lahab.

Beliau tetap bersabar, serta mengharap pahala dari Alloh. Beliau tidak berkenan menghentikan dakwah atau surut ke belakang. Pasalnya kaum Quraisy mengancam, bila beliau tidak menghentikan dakwah, maka kedua putri beliau akan dicerai. Hingga akhirnya beliau saw tetap teguh dan sabar, serta tidak goyah dalam mendakwahkan agama Islam.

Beliau adalah orang yang sangat mencintai dan sangat menginginkan kebahagiaan bagi putrinya, akan tetapi kecintaan beliau terhadap putrinya, tidak melebihi kecintaan beliau kepada Alloh, Robbul Izzah. Maka, bila terjadi suatu pelanggaran atau kemaksiatan yang dilakukan oleh putrinya itu. Rosululloh tidak pilih kasih, serta tidak segan-segan untuk memberikan hukuman sesuai dengan syariat yang berlaku. Sebagaimana Rosululloh pernah menjelaskan, bahwa jika putrinya mencuri, maka dia pun akan dipotong tangannya sebagai hukuman atas perbuatannya tersebut.

Di antara bentuk sambutan hangat beliau terhadap putrinya adalah sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah, ia berkata, “Pada suatu hari, kami, para istri Rasululloh saw berada di sisi beliau. Lalu, datanglah Fatimah kepada beliau dengan berjalan kaki, gaya berjalannya sangat mirip dengan Rosululloh. Ketika Rasululloh melihatnya, beliau memberikan ucapan selamat untuknya. Beliau berkata, “Selamat datang wahai putriku. Kemudian beliau tempatkan ia di sebelah kanan atau kiri beliau.” (HR. Muslim)

Diantara bentuk kasih sayang dan cinta beliau kepada putri—putri beliau ialah dengan mengunjungi mereka dan menanyakan kabar dan problem yang mereka hadapi. Fatimah pernah datang menemui beliau mengadukan tangannya yang lecet karena mengadoni tepung. Ia meminta seorang pelayan kepada beliau . Namun, Fatimah tidak bertemu dengan beliau, Fatimah mengabarkan kedatangannya kepada Aisyah. Setelah Rasululloh kembali, ‘Aisyah  mengabarkan perihal kedatangan Fatimah. Kemudian Rasululloh mendatangi kediaman Fatimah. Suaminya, Ali bin Abi Thalib menceritakan kepada kita bagaimana kisah kelanjutannya: “Beliau lalu datang menemui kami berdua saat kami sudah berbaring di alas dipan. Ketika beliau datang, kami pun segera bangkit. Beliau berkata. “Tetaplah di tempat kamu!” Beliau pun mendekat, lalu duduk diantara kami berdua hingga aku dapat merasakan sejuk kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan? Apabila kamu hendak tidur, bacalah takbir (Allohu Akhar) tiga puluh tiga kali, tasbih (Subhanalloh) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnva bacaan tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pelayan.” (HR. Bukhori) 

Sungguh, pada diri Rosululloh terdapat teladan yang baik bagi kita, teladan dalam kesabaran dan ketabahan. Seluruh putra-putri beliau wafat sewaktu beliau masih hidup, kecuali Fatimah. Namun, meskipun demikian beliau tidak menampar-nampar wajah, merobek-robek pakaian dan tidak mengadakan kenduri kematian sebagaimana yang sering kita lihat dari mayoritas kaum muslimin saat ini. Beliau tetap bersabar dan tabah dengan mengharap pahala dari Alloh  serta ridho atas takdir dan ketentuan-Nya.

Ref: Yaumun fi Baitir Rasul, Abdul Malik Al-Qosim 

[ad code=2 align=center]

Updated: 04/07/2012 — 10:34 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme