Membalut Sayatan Dosa

Banyak orang yang sudah biasa menanggalkan ibadah. Hidup pun bergelimang dalam kesia-siaan. Seolah hidup tidak ada matinya. Seolah amal tak berbalas. Dalam kesehariannya, dirinya hanya bertarung dengan waktu untuk memenangkan dunia. Sedang akhiratnya hanya sedikit yang tersentuh, selebihnya entah kemana.

timbangan pahala dan dosaYang itu sudah banyak. Yang ini lebih banyak dan mengerikan, banyak orang yang sudah menganggap biasa sebuah dosa. Baik kecil maupun besar. Seperti yang sering kita dengar, “Cari yang halal mah mas udah susah. Nyuri dikit kan gak apa-apa yang penting perut masih bisa ke isi.”

Seperti itulah zaman kita saat ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bahkan, sudah bukan rahasia lagi, kalau saat banyak orang yang berpangkat elite, mencari makan bukan sekedar kepentingan perut saja, tetapi untuk memenuhi kantong dan kesenangan nafsu, mereka rela mengorbankan apa saja, termasuk diri dan kehormatannya.

Apakah Islam membenarkan perbuatan-perbuatan semacam itu? Jelas tidak! Seprihatin apapun, Islam jelas melarang untuk mencuri, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan lainnya. Islam justru mengajarkan kesabaran, menerima, bahkan menganjurkan untuk memberi dan berjuang walaupun dalam keadaan sempit.
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Pengaruh dari Berbuat Dosa

Yang jelas, menghalalkan dosa adalah perbuatan yang menghalalkan pelakunya masuk neraka. Alias dosa besar. Menganggap remeh dosa kecil saja, Alloh dan Rasul-Nya dengan jelas telah melarangnya. Imam Al-Auzai mengatakan: “Cukuplah dikatakan sebagai dosa besar adalah apabila seseorang rnelakukan dosa kecil tapi ia anggap remeh” (Lihat Syu’ab Al-iman ,no.7153)

Saudaraku.
Apakah mungkin, akan muncul dalam betikan hati seorang mukmin yang khasyah (takut) kepada Alloh itu keinginan untuk bermaksiat kepada-Nya?

Kalau kita mau jujur menjawab, tentu lisan kita akan berkata, “Tentu tidak…!” Akan tetapi, fakta itu terkadang lebih tajam daripada sekedar kata-kata. Apa yang kita katakan, terkadang jauh dari realita. Kita sering berjanji dan berkata, “Ya Allah ampuni aku hari ini dan berjanji tak akan mengulangi…” Tapi, itu sangat cepat meluapnya, tanpa sisa. Dengan segera kita bermaksiat kepada-Nya. Menyedihkan, ternyata hidup kita hanya kumpulan omong kosong. Padahal Alloh telah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang-tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu rnengatakan-apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf: 2-3). Bukan seperti ini tentunya kehidupan sejati seorang mukmin yang kita harapkan dan dambakan.

Saudaraku…,
Adakah kita pernah menatap kehidupan salafus shalih para pendahulu kita?
Sesungguhnya mereka adalah cermin dan lentera bagi kita dalam menjalani hidup ini. Ketinggian derajat mereka, telah membentuk kerendahan hati yang sangat mengagumkan. Kekuatan ruhani mereka melahirkan perasaan yang begitu mulia meski mereka bergelimang prestasi amal shalih. Kemuliaan mereka di mata Alloh , menjadikan mereka merasa tak layak memperoleh pahala dari-Nya. Harap dan rasa takut mereka kepada Alloh menjadikan satu hati, lisan dan amal perbuatan mereka untuk selalu memupuk amal dan juga tidak pernah meremehkan suatu dosa.

Abu Hafsh adalah seorang shalafus shalih yang hari-harinya selalu diliputi rasa takut kepada Alloh , Dzat yang dapat menimpakan adzab kapan dan dimana saja. Sampai-sampai beliau mengatakan:  “Sejak empat puluh tahun ada keyakinan dalam diriku bahwa Alloh memandangku dengan pandangan marah karena perilakuku.”
Lembaran-lembaran sejarah emas pun telah mencatat, bahwa Hasan Al-Basri adalah generasi Salafus Shalih yang memiliki karakter keshalihan di atas yang lainnya, prestasi ibadahnya tak ada yang mengungguli, kezuhudan, kewaraan dan keilmuannya sudah tidak dapat lagi ditampung di dalam lembaran-lembaran pujian. Namun, apa yang beliau katakan ketika beliau menceritakan, bahwa nanti di akhirat akan ada orang berdosa yang dimasukkan ke dalam neraka selama seribu tahun, lalu diangkat dan dimasukkan ke dalam syurga. Beliau pun mengatakan. “Duhai seandainya aku orang itu.

Di atas segala prestasinya, Imam Hasan Al-Basri masih berkata seperti itu. Tapi bagi Imam Hasan Al-Basri, menjadi orang yang terakhir keluar dari neraka karena dosa-dosa yang diperbuatnya, bagaimanapun merupakan karunia yang sangat disyukuri, karena itu pertanda ia tidak kekal abàdi di neraka.

Saudaraku…,
Diantara deretan prestasi ibadah para Salafus Shalih: Ibnu Hafs, Hasan Al-Basri, Fudhail bin Iyadh, Imam Abu Hanifah, Syafi’i, Maliki. Hambali, atau bahkan diantara deretan prestasi ibadah para sahabat Rasululloh . Adakah prestasi ibadah kita diantara mereka?

Dengan mengeluhkan segala  ketidakberdayaan, kita pun akan mudah menjawab, “Tidak…” Jelas, memang demikianlah keadaannya. Namun sangat mengherankan. Bila para Salafus Shalih dengan segenap prestasi ibadahnya selalu menganggap diri mereka hina penuh dosa, akan tetapi, kita selalu berpikir, bahwa kita akan mudah masuk syurga, padahal kita adalah sebenar-benarnya orang yang hina dengan penuh lumuran dosa. Atau mungkinkah kita berpikiran sama dengan orang-orang kafir Yahudi, yang akan kekal di neraka, Namun mereka mengatakan: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” (QS. Al-Baqarah: 80)

Saudaraku…, tertipu kita oleh tipuan syetan. Syetan selalu membisikkan kepada hati kita yang sakit ini akan banyaknya ibadah, padahal sedikit. Akan mudahnya kita masuk syurga, padahal jelas-jelas neraka di depan mata. Syetan senantiasa menyayat-yayat hati kita dengan syubhat-syubhat yang membuat hati kita seolah merasa tenang. Itulah hembusan syetan yang sebenarnya harus gundah hati kita darinya.

Kalau kita tidak pernah merasakan kegundahan, maka pertanda hati kita telah mati.

Ibnu Qayyim mengatakan, “Dosa itu ibarat sayatan luka. Berapa banvak sayatan luka yang tak terasa lagi oleh orang yang sudah mati.” Benarlah. Sayatan-sayatan itu akan senantiasa mengiris, sehingga hati kita benar-benar mati tak berdaya, tidak bisa mendeteksi lagi unsur kebaikan dan keburukan, lalu tunduk kepada syetan. Akhirnya, setiap dosa selalu kita anggap kecil. Sedang yang kecil kita anggap biasa.

Oleh karena itu wahai saudaraku, kita harus benar-benar menatap jauh ke dalam hati kita. Adakah sayatan-sayatan itu telah melukai hati? Bila benar! Segeralah kita tutupi sayatan itu dengan tetesan taubat dan balutan amal shalih. Hanya dengan itu kita dapat menutupi dan memulihkan sayatan dosa. “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”(QS. Al-Furqon: 71)

Renungkanlah pula oleh kita kisah Umar ketika dia menyesali apa yang dia lakukan akibat “memprotes” keputusan Rasululloh yang membatalkan umroh dan berujung pada perjanjian Hudaibiyah. Walaupun itu hanyalah sebagai bentuk pembelaan terhadap agamanya dan merupakan ijtihad yang dimaafkan. Tetapi, Umar masih merasa dan menilai sikap tersebut sebagai dosa. Karena itu, ia pun bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dengan harapan akan dapat menghapus dosanya itu. Ia mengatakan, “Karena kesalahan itu, saya melakukan berbagai amalan. “ Dalam riwayat lbnu Ishaq disebutkan bahwa Umar pernah mengatakan: “Aku senantiasa bersedekah, berpuasa, shalat dan memerdekakan budak, karena apa yang pernah kulakukan waktu itu.”

Al-Hafidz lbnu Hajar mengatakan, “Sesungguhnya dia (Umar) melakukan amalan-amalan tersebut hanya karena menganggapnya sebagai dosa, maka seluruh yang muncul darinya adalah termaafkan, bahkan mendapatkan pahala karena ia berijtihad di dalamnya” (Lihat Fathul Baari, 11/347)

Saudaraku…,
Atau boleh jadi kita Alhamdulillah masih diselamatkan oleh Alloh sebagai hamba-Nya yang memendam kerinduan untuk beribadah kepada-Nya. Syukurilah itu. Tapi jangan lupa saudaraku, kita harus sadar bahwa masih banyak kemungkinan kita jatuh dalam dosa. Jangan pernah berpikir ada perbuatan dosa yang remeh, selama hal itu dapat membuka pintu untuk syetan. Karena ketika syetan diberi pijakan, ia akan segera menggunakan kesempatan untuk menghancurkan.

Ingatlah, bahwa syetan tidak pernah menyerah. Keadaan kita yang masih dalam ketaatan kepada-Nya bukan berarti membuat syetan gagal dan tidak berupaya menundukan lalu membuat kita menyembah pada keinginan-keinginannya. Syetan, bahkan bisa saja sengaja membiarkan satu keadaan yang baik untuk kita, tapi itu semu belaka karena di sisi lain ia tengah merasuki kita lagi dari pintu yang lainnya.

lbnul Qoyyim menyebutkan dua keadaan yang bisa mencabut kenikmatan hidup di dunia dan akhirat dari diri seseorang. Dua kondisi itu adalah, ghoflah (kelalaian) dan kasl (kemalasan). Ghoflah scbagai lawan dari ilmu, kasl lawan dari irodah atau semangat. “Lalai dan malas adalah dua faktor utama yang menyebabkan seorang hamba terhalang dari kebahagiaan di dunia dan akhirat serta memudahkan musuh menyerangnya.” (Miftah Darus Sa’adah, 1/112)

Semoga kita dapat memperbaiki diri dan mengurangi perbuatan dosa…

[ad code=2 align=center]

Updated: 03/07/2012 — 10:11 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme