Ja’far bin Abi Thalib Pemilik Dua Sayap

Ja’far bin Abi Thalib Sewaktu Kecil

Berbeda dengan saudara-saudara Quraisy-nya yang lain, yang rata-rata kaya raya dan merupakan kalangan bangsawan terkemuka, Abu Thalib yang merupakan paman nabi justru hidup kekurangan. Padahal, Abu Thalib memiliki keluarga yang sangat besar, sehingga ia kesulitan untuk menafkahi semua anggota keluarganya. Apalagi ketika Makkah didera kekeringan hebat yang membuat banyak orang kelaparan.

Ja'far bin Abi Thalib Pemilik Dua SayapPada saat kekeringan hebat itulah, Muhammad Rasululloh sebelum diutus menjadi Rasul Alloh berkata kepada pamannya yang lain, yaitu Abbas, untuk membantu kehidupan keluarga Abu Thalib. Sebelumnya, Rasululloh pada masa kecilnya diasuh oleh Abu Thalib atas permintaan kakeknya Abdul Mutholib. Bersama Abbas, Rasululloh mengambil alih sebagian tanggungan Abu Thalib atas keluarganya.

Abu Thalib pun setuju dan merelakan anaknya diasuh oleh Muhammad dan Abbas. Muhammad mengambil Ali bin Abi Thalib sebagai tanggungannya, sementara Abbas mengambil Ja’far bin Abi Thalib bersamanya. Anak yang lain, yaitu ‘Aqil tetap diasuh Abu Thalib. Dari sekian banyak keluarga bani Hasyim, Jafar merupakan satu diantara lima anggota bani ini yang memiliki banyak kemiripan (secara fisik) dengan Rasululloh. Empat pria lainnya dari bani Hasyim yang memiliki banyak kemiripan dengan Rasululloh adalah Abu Sufyan bin Al Harist dan Qutham bin Al-Abbas, keduanya adalah sepupu Rasululloh . Juga As-Saib bin Ubaid dan Hasan bin Ali yang merupakan cucu Rasululloh putera Ali dan Fatimah.

Setelah diangkat, Jafar tinggal bersama pamannya, Abbas hingga ia beranjak dewasa. Setelah itu ia menikahi Asma binti Umays, saudari dari Maimunah, istri Rasululloh di kemudian hari. Ali bin Abi Thalib tetap bersama Rasululloh hingga Alloh mengutus beliau sebagai nabi. Lalu Ali mengikuti beliau dan beriman kepada beliau. Sementara Ja’far bin Abi Thalib tetap bersama Al-Abbas hingga dia masuk Islam dan tidak lagi hidup bersama pamannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Jafar masuk Islam sebelum Rasululloh masuk rumah Al Arqam bin Abul Arqam dan berdakwah di sana.

Orang-orang Quraisy menyiksa orang-orang yang masuk Islam dengan berbagai macam penyiksaan dan tekanan, menghalangi mereka menyebarkan syi’ar Islam. Rasululloh dan para sahabatnya tetap bersabar. Berbagai macam siksaan dan gangguan tidak menyurutkan langkah mereka dan tidak melemahkan hasrat mereka. Bahkan, keimanan mereka semakin bertambah dan mereka semakin teguh berpegang kepada agamanya serta tetap melaksanakan syi’ar-syi’arnya dalam berbagai kesempatan.

Karena keyakinan dan keteguhan hati Jafar dan istrinya dengan Islam, orang Quraisy menjadikan kehidupan sosial pasangan ini sangat sulit. Orang Quraisy juga mencoba menghalangi keduanya untuk menjalankan ibadah. Jafar kemudian pergi bertemu Rasululloh dan meminta izin untuk pergi berhijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia) bersama beberapa orang sahabat. Dengan penuh kesedihan, Rasululloh pun memberikan izin kepada anak pamannya tersebut. Dalam hal ini Rasululloh pernah bersabda: “Dia adalah amir (pimpinan) orang orang yang hijrah ke Habasyah.”

Kelompok Muhajirin yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib ini kemudian meninggalkan Makkah dan pergi menuju Habasyah. Di kota ini mereka hidup di bawah perlindungan Najasy, pemimpin wilayah ini. Untuk pertama kalinya sejak menjadi muslim, mereka menikmati kebebasan, baik untuk mengakui agamanya maupun melakukan ibadah tanpa diganggu.

Ketika berita kepergian kelompok ini diketahui orang Quraisy, mereka menjadi sangat marah. Apalagi mengetahui bahwa kelompok muslim ini inenjalani kehidupan yang aman dan damai di bawah perlindungan Najasy. Karena itulah, orang Quraisy segara membuat rencana ekstradisi yang akan mengirim para muslimin yang hijrah ini masuk penjara di Makkah. Quraisy kemudian mengirim dua orang wakilnya yang paling hebat yaitu Amr bin Ash dan Abdulloh bin Abi Rabiah. Keduanya dibekali dengan banyak hadiah dan wanita yang akan diberikan kepada Najasy dan para wakilnya/pasturnya.

Segala upaya dilakukan keduanya termasuk memfitnah umat Islam dan mengadu dombanya dengan Najasy. Para pastur yang biasa berada di sekitar Najasy pun ikut membantu mereka berdua untuk memfitnah kaum muslimin. Namun upaya mereka gagal. Di hadapan Najasy dan para wakilnya, dengan fasih dan lancar, Ja’far sebagai amir rombongan muhajirin menjelaskan keyakinan yang ia anut bersama umat Islam lainnya. Ia menjelaskan alasan ketertarikannya pada Islam dan kenapa ia bersama umat Islam lainnya memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.

Ja’far juga menjelaskan dengan indah ajaran Islam yang ia anut. Ja’far pun membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dari surat Maryam kepada Najasy ketika dirinya diminta menunjukkan sesuatu yang datangnya dari Alloh. Ja’far membacakan ayat, ‘Kaf ha ya ‘ain shad,..,” Demi Alloh, setelah mendengar lantunan ayat suci yang dibacakan, Najasy menangis dibuatnya hingga jenggotnya basah oleh air mata. Bahkan, semua pastur yang hadir di sana •juga ikut menangis hingga membasahi kitab yang ada di hadapan mereka.

“Sesungguhnya ini sama dengan apa yang dibawa Isa, yang keluar dari satu misykat.” Kata Najasy. Ia bahkan menjanjikan, siapapun yang mengganggu umat Islam akan berhadapan dengannya. Kisah itu pun berending bahagia bagi para muhajirin, sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan kembali di negeri Habasyah itu. Sebaliknya, dua orang utusan Quraisy pulang dengan tangan hampa sekaligus membawa kabar kehinaan.

Ja’far dan Asma menghabiskan waktu cukup lama di Habasyah yang menjadi rumah kedua bagi mereka. Di tempat ini, Asma melahirkan tiga putra yang diberi nama Abdulloh, Muhammad, dan Awn. Putra kedua mereka yang diberi nama Muhammad menjadi pria pertama dalam sejarah Islam yang diberi nama sama dengan nama Rasululloh.

Walaupun keadaan di Habasyah dengan rajanya yang bijaksana dan adil menjadi tempat yang aman bagi Ja’far dan kaum muslimin yang hijrah untuk beribadah dan menjalankan kehidupan mereka, akan tetapi tetap saja kerinduan terhadap Rasululloh dan dapat hidup berdampingan bersama kaum muslimin lainnya tidak dapat mereka pendam lebih lama lagi. Apalagi, telah tersiar kabar, bahwasanya Rasululloh sudah berhijrah dari Makkah dan menetap di Madinah bersama seluruh kaum muslimin lainnya. Semakin tak terbendung lagi kerinduan mereka.

Akhirnya, pada tahun ke tujuh hijrahnya, Ja’far dan keluarganya meninggalkan Habasyah bersama sekelompok Muslim untuk menuju Madinah. Ketika mereka tiba, Rasululloh baru saja kembali dari perang Khaibar. Rasululloh benar-benar kaget dan merasakan kegembiraan atas kedatangan Ja’far. Bahkan, beliau tak mampu menyembunyikan kegembiraan itu lewat perkataan dan perbuatan. Beliau memeluk dan merangkulnya serta mencium di antara kedua matanya. Beliau bersabda, “Aku tidak tahu karena apa aku gembira? Apakah karena kedatangan Ja’far ataukah karena ditaklukkannya Khaibar?”

Kedatangan Ja’far membawa angin segar bagi umat Islam yang miskin. Tak butuh waktu lama untuk Ja’far menjadi terkenal sebagai sahabat yang peduli dengan mereka yang miskin. Karena itulah ia kemudian dijuluki sebagai “Bapak Kaum Miskin”.

Abu Hurairah menyebut bahwa orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Saking pedulinya, jika ia menemukan ada orang yang miskin dan kelaparan, ia akan segera pulang ke rumah dan memberi orang itu makanan yang ia punya, bahkan jika itu membuatnya harus menghabiskan jatah makannya.

Ja’far tinggal di Madinah tidak terlalu lama. Pada awal tahun ke delapan, Rasululloh memobilisasi pasukan untuk mcnghadapi pasukan Byzantium(Romawi) di bagian wilayah selatan Syam. Rasululloh berencana menyerang pasukan ini karena salah satu sahabat, yaitu Al-Harits bin Umair yang dikirim ke Byzantium untuk misi pengiriman surat yang berisi seruan kepada agama Alloh dihadang di daerah Mu’tah dan dibunuh dengan keji oleh gubernur daerah itu.

Rasululloh lalu menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan. Setelah itu Rasul menyatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada Zaid selama pertempuran maka posisi itu akan digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan jika Ja’far tewas, maka posisinya akan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Ketika pasukan Muslim mendekati Mu’tah, sebuah desa kecil di dekat perbukitan Yordania, mereka menemukan bahwa pasukan Byzantium sudah menghimpun dua ratus ribu pasukan dengan menggunakan tameng umat Kristen Arab dan suku Lakhm, Judham, Qudaah, dan suku-suku lainnya.

Di Mu’tah itulah kedua pasukan saling berhadapan dan pertempuran pun mulai meletus. Tiga ribu pasukan Islam harus menghadapi gempuran musuh yang berkekuatan “super wah” itu, suatu pertempuran langka yang disaksikan dunia dengan decak kagum dan gelengan kepala. Tapi, apabila angin iman sudah berhembus, maka muncullah hal-hal yang tak terduga dan terkadang terasa mengherankan.

Meskipun tidak seimbang, namun umat Islam tetap bertarung dengan penuh semangat. Zaid bin Haritsah menjadi salah satu yang pertama syahid dalam pertempuran itu. Sesuai perintah Rasul, Ja’far bin Abi Thalib kemudian yang memegang komando, dengan penuh keberanian, ia menerjang pasukan Byzantium. Ia pun syahid dengan tubuh terbelah dua, bersama juga puluhan luka yang sangat mengerikan di sekujur tubuhnya, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Umar.

Sebelum orang-orang di Madinah mendengar kabar dari kancah peperangan, Rasululloh telah bersabda mengabarkan apa yang terjadi dengan lantaran wahyu, “Zaid mengambil bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja’far yang mengambilnya dan dia pun gugur. Kemudian Ibnu Rawahah yang mengambilnya dan dia pun gugur.” Kedua mata beliau meneteskan air mata, lalu bersabda lagi, “Hingga salah satu dari pedang-pedang Alloh (Khalid bin Walid) mengambil bendera itu dan akhirnya Alloh memberikan kemenangan kepada mereka.”

Mengenai keadaan Ja’far yang tubuhnya terbelah dua itu Rasululloh saw memberikan kabarnya:

“Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla menjadikan dua sayap bagi Ja’far yang dengan sayap itu, dia terbang di surga.” 

[ad code=2 align=center]

Updated: 11/07/2012 — 10:04 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme