Garda Pembela

“Dan berapa banyaknya nabi yg berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Alloh dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh), Alloh menyukai orang-orang yang sabar.”(QS. Ali lmran: 146)

Saat itu, Uhud menjadi batu ujian yang sangat berat bagi pasukan pembela Islam. Kegoncangan berat pun terjadi, ketika tersiar kabar isu kematian Rasululloh menghinggapi telinga-telinga mereka, hingga menyesakkan dada-dada mereka. Namun, di tengah kondisi yang diliputi kesedihan dan ujian yang berat itu terdengar seruan keimanan yang kokoh: “Matilah kalian sebagaimana Rasululloh mati… “ Jika kalian memang mengaku beriman, maka berjuanglah sebagaimana rasul berjuang, dan matilah sebagaimana rasul mati. Begitulah kira-kira maksud kalimat tersebut.

Akhirnya, situasi pun kembali berputar. Para sahabat pun dapat bersabar dan dapat menghilangkan semua perasaan sedih dan kegalauan setelah kalimat seruan itu terdengar. Mereka pun sadar, bahwa kematian Rasululloh bukanlah akhir dari segalanya. Mereka masih yakin dengan adanya Alloh. Yang mereka bela adalah agama Islam. Yang mereka hunus adalah pedang keimanan. Yang mereka serukan adalah kalimat tauhid, yang mereka inginkan adalah kesyahidan sebagaimana orang-orang yang syahid dari para pendahulu mereka. Dengan atau tanpa Rasululloh mereka tetap akan berjuang.

Al-Imam Ibnu Katsir rhm menjelaskan di dalam tafsirnya, “Bahwa ketika itu tersebar isu kematian Rasululloh di perang Uhud sehingga para sahabat pun meyakini kematian Rosululloh saat itu, Namun, mereka pun meyakini, bahwa hal seperti itu pernah terjadi pada generasi terdahulu dari para anbiya yang terbunuh di jalan Alloh, sebagaimana yang sering Alloh ceritakan di dalam ayat-ayat- Nya, yang hal itu sering membuat para pengikut nabi tersebut melemah jiwanya, bersedih dan malah meninggalkan jihad. Oleh karena itu semua, Alloh menurunkan kepada rasul-Nya ayat yang memperingati kaum mukmin untuk bersabar ketika terjadi sesuatu kepada rasul-Nya, “Muhammad itu tak lain hanyalah seorang rasul. Dan sungguh telah berlalu rasul-rasul (yang seperti dia) sebelumnya.” Yaitu, bahwa rasul itu adalah uswah bagi mereka (kaum mukminin)baik dalam beramal, bahkan sampai dalam memperoleh kematian.”

Beliau melanjutkan, “Alloh juga memperingati terhadap orang-orang yang lemah, yang tidak mau bersabar dan mengikuti hawa nafsunya, “Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang?” Yaitu, kembali kepada kekafiran.

“Barangsiapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat sedikitpun kepada Alloh, dan Alloh akan memberi balasan bagi orang-orang yang bersyukur.” Yaitu, orang-orang yang berdiri menaati-Nya, dan berjihad untuk agama-Nya, dan orang-orang yang mengikuti rosululloh, baik disaat beliau hidup maupun ketika sudah wafatnya.”

Bahkan, setelah diketahui bahwa kabar kematian rosul itu hanyalah dusta, keimanan mereka pun semakin bertambah, dengan serta merta mereka mendekati Rosululloh untuk memberi perlindungan, menjadikan tubuh-tubuh mereka tameng sebagai tanda bukti keimanan mereka kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Saudaraku…,
Merekalah para sahabat Ridwanulloh ‘Alaihim Ajma’in. Berjihad di jalan Alloh untuk membela agama-Nya sudah menjadi kesibukkan yang senantiasa mereka jalankan dalam situasi bagaimanapun adanya.
Begitulah, bila keimanan yang benar-benar ikhlas dan jujur telah terpatri di dalam dada. Maka hanya ada satu yang dapat membuktikannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya kepada AlIoh dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

Bukan hanya beriman saja. Akan tetapi, mereka buktikan keimanannya itu dengan berjihad dijalan Alloh untuk membela agama-Nya. Dan sungguh, perjalanan jihad ini, adalah merupakan warisan terbaik dari generasi-generasi emas yang telah diestafetkan semenjak beberapa abad yang lalu dari para anbiya (nabi-nabi) yang telah diutus oleh Alloh untuk meninggikan kalimat-Nya dan shiddiqiin (orang-orang yang jujur) yang telah Alloh tempatkan di barisan terdepan untuk menjadi pembela para utusan-Nya. Dalam sebuah barian yang tersusun rapih. Dalam satu garda yang siap menyongsong kemuliaan.

Inilah karakteristik generasi robbaniy yang paling utama yang Alloh jelaskan melalui ayat-Nya di atas. Mereka beriman kepada Dzat yang Maha Kuasa dan kepada Rasul yang mulia, berjihad dengan jiwa dan raganya, menyerukan kalimat Alloh dengan hati dan lisannya, beramal sholeh dengan sunnah rasul-Nya dalam seluruh sendi lisan dan pergerakan tubuhnya, dan mereka bersabar di atas itu semua dengan mengenyahkan seluruh kelesuan dan kehinaan di atas musuh—musuh mereka, musuh-musuh Alloh, yaitu dari golongan orang-orang kafir dan dzalim yang merupakan perpanjangan tangan-tangan syetan.

Di dalam ayat selanjutnya dari surat Ali lmran ini, Alloh lebih menegaskan lagi tentang karakteristik yang luar biasa sekali dari generasi robbaniy ini. Yaitu, ketika mereka telah terigristrasi sebagai lulusan shiddiiqiyah yang membuktikan kejujuran iman mereka dengan berjihad di jalan Alloh, bersiap di garda terdepan di dalam mempertahankan agama-Nya dari tipu muslihat dan rongrongan orang kafir, serta menjalankan ketaatan kepada-Nya dengan penghambaan yang telah digariskan oleh-Nya, dan juga setelah mereka berhasil melewati segala macam musibah dan ujian yang menimpa mereka dengan bersabar atasnya dan juga menambah kesabaran atas setiap keletihan dan kejenuhan di dalam menjalankan perintah-perintah-Nya.

Maka, ketika semua kemuliaan itu sudah mereka dapatkan, tidaklah lantas menjadikan mereka merasa bangga dengan jasa yang telah mereka korbankan, sehingga menjadi lengah dari setiap ancaman musuh-musuh mereka. Justru mereka malah berdo’a kepada Dzat yang telah memberikan kepada mereka kemuliaan itu semua: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. “(QS. Ali Imran: 147)

Beruntunglah mereka para generasi robbaniy yang telah mengorbankan seluruh apa yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai bekal perjalanan fi sabilillahnya. Maka Alloh pun tidaklah menyia-nyiakan amal dan do’a mereka: “Karena itu Alloh memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Ali Imron:148)

[ad code=2 align=center]

Updated: 03/07/2012 — 10:02 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme