Dunia Datang dan Pergi

” Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash:77)

Kecerai Beraian Alam Dunia

Alam dunia pun mengalami peristiwa ‘perceraian’ ternyata. Semisal banjir dan kekeringan. Keduanya merupakan simfoni besar yang Alloh ciptakan tanpa jeda. Manusia telah mencederai irama alam, kesenjangan alam menyeruak dan kini ketidak seimbangan menyelimuti alam ini, siklus alam ini tidak lagi akur, sudah cerai.

Bola DuniaSiklus keteraturan alam dunia adalah denyut kehidupan ini, ia menghasilkan varian atau keanekaragaman. Ada musim berbunga dan berbuah, musim dedaunan gugur untuk tumbuh pucuk baru. Tahun lepas tahun pergantian bergulir, generasi yang satu berganti generasi selanjutnya, tanpa jeda dan satu siklus kesiklus baru.

Hujan mengerosi tanah lalu mengendap jadi lahan subur di daratan rendah. Air hujan meresap lalu muncul menjadi mata air dan mengisi sumur. Hujan merangsang napas kehidupan, air naik ke daun mengubah CO2 menjadi O2 untuk kita hirup. Musim kering memberi jeda pada pohon untuk berbunga dan berbuah, burung membangun sarang, daun yang gugur menjadi pakan anakan ikan. Udara kering mematangkan kepompong kupu-kupu, air meresap membentuk pohon. Kemarau mengeringkan pohon untuk anggrek dan cendawan tumbuh. Pergantian satu dengan yang lain adalah two in one, dua kutub satu kesatuan. Satu kutub menyediakan air dan kutub lain memelihara.

Akhir-akhir ini manusia lebih suka mengeksploitasi alam dunia, tetapi enggan kena bencana. Menuntut hak dari alam, tetapi enggan memelihara. Telah terjadi pergeseran nilai, lebih mengutamakan hak dibanding kewajiban. Semua ini menyebabkan banjir dan kekeringan dipaksa bercerai.

Daur hidrologi telah menyediakan air tanpa kenal henti. Tanpa musim, kehidupan dunia akan amat datar tanpa dinamika, sama dengan di gurun pasir yang minim sekali akan air, sehingga amat panas saat siang dan amat dingin ketika pada malam hari. Bencana datang silih berganti, tak mengenal siapa pun. Orang durhaka dan maksiat kepada Alloh, sungguh merekalah yang memberikan akses terbesar pengundang malapetaka dan bencana yang terjadi di dunia. Kapal-kapal dan pesawat pun satu demi satu berjatuhan. Elvina dengan banyak beberapa korbannya, telah menunjukkan kembali atas kedzaliman manusia.

Tiada kedzaliman yang lebih besar kecuali kesyirikan. Adapun waktu lalu banjir dan longsor yang menjadi headline dan bahan pembicaraan. Akan tetapi nyaris tidak dapat kita temukan dan tidak terdengar dalam slogan, diskusi dan pembicaraan-pembicaraan manusia keluar hanya sekedar kalimat Alloh. Na ‘udzubillah!!

Sungguh manusia telah melupakan Alloh yang Maha Kuasa untuk berbuat segala apapun terhadap dunia. Apalagi sangat jauh untuk mengatakan, bahwa bencana demi bencana yang menimpa mereka adalah adzab Alloh untuk para pengingkar dan pembuat kerusakan di muka bumi ini.

Anomaly perubahan iklim global menjadi tudingan. Amblesan tanah dilupakan, bantaran sungai jadi pemukiman dan pusat belanja, kawasan parkir air di rawa pantai jadi mal. Situ lenyap, atap aspal dan beton menghambat resapan air. System drainase perkotaan macet. Kawasan terbuka susut, semuanya menyumbang kejadian banjir ekstrem.

Hubungan hulu dan hilir sungai juga perlu rujuk, penduduk di hilir menuding ada banjir kiriman. Tiap hari air dari hulu meresap menjadi air artesis berkualitas prima di hilir, tetapi ini tidak dituding sebagai air kiriman. Kebijakan pemerintahan hulu dan hilir perlu lebih mesra.

Peran Kita Dalam Menjaga Kelestarian Dunia

Setiap kita menyumbang pada perubahan. Perubahan bukan hanya oleh industri dan pabrik. Peran tiap warga adalah kembali atau bertaubat kepada Alloh, dengan kembali mempelajari kemudian menginternalisasikan nilai-nilai kalimat tauhid (laailahaillalloh).

Begitu juga sangat perlu peran dan regulasi pemerintah. Tersedia data, informasi, teknologi, dan knowledge yang terkait air. Harus tahu daya dukung ekosistem, tahu mengantisipasi perubahan. Knowledge diterjemahkan menjadi kebijakan lalu menjadi rencana, program, proyek, dan kegiatan. Koordinasi antar sektor agar menjadi operasional.

Perubahan perilaku juga sangat perlu. Voor de oorlog para insinyur membuat jalan dan got sebagai satu kesatuan. Gotong royong bukan hanya membangun rumah, tetapi membersihkan lingkungan dan saluran air. Pembangunan prasarana terkesan tersekat antar sektor. Jalan, trotoar, dan got sudah pisah: normalisasi kali, galian listrik, telepon, dan pipa air beda, semua menuju kemandirian yang sempit.

Menyikapi Banjir

Membangun berarti perubahan tiada henti. Penduduk bertambah, kegiatan ekonomi marak, kualitas hidup naik, kebutuhan pangan meningkat, keragaman melambung. Semua perlu penataan ke dalam rencana yang imbang antara eksploitasi dan kelangsungan fungsi ekosistem.

Serta kita pun memerlukan system untuk mengatur semua itu. System yang dibutuhkan tersebut bukanlah yang hanya dipikirkan oleh segelintir, puluhan, ratusan dan ribuan orang. Dan itu tidak mampu dan tidak memberikan dampak dalam perbaikan kehidupan ini.

Kita membutuhkan penegakkan system yang telah dibuat oleh yang menjadikan alam semesta dan segala isinya, yaitu Alloh. Hukum atau undang-undang Alloh yang pasti mampu untuk menyeimbangkan kembali kehidupan ini. Banjir ekstrem, gempa dan berbagai bencana yang melanda dunia adalah rambu peringatan bahkan siksa. Banjir jangan disikapi dengan istilah banjir lima tahunan. Kejadian banjir perlu ditanggapi dengan program perbaikan.

Banjir datang bukan sekonyong-konyong dengan sendirinya. Dan bukan melulu karena membuang sampah sembarangan, dan penebangan hutan secara liar. Pada masa kehidupan nabi Nuh as, tidak ditemukan adanya pengrusakan yang terjadi pada alam dan kehidupan mereka. Akan tetapi kenapa Alloh swt mengirim banjir besar yang menelan dan menenggelamkan bumi.

Kembali kepada Alloh dengan memegang teguh hukum-hukum-Nya, kemudian menerapkan dalam kehidupan, adalah perlu jadi satu simfoni yang di mainkan secara indah.
Wallohul musta’an

 

Updated: 18/07/2012 — 11:55 am
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme