Berkah Ucapan “Insya Alloh”

Makna Insya Alloh Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Seseorang yang sadar akan kelemahan dan keterbatasannya, lantas sadar pula akan kekurangan dan kehinaanya, maka ia akan bersandar kepada Dzat yang jauh lebih kuat darinya. Dialah Alloh yang Maha Kuat, Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Maha Mulia lagi Maha Sempurna, Maha kaya lagi Maha Terpuji. Bahkan Dia-lah saja, Allohush Shamad, Alloh tempat bergantung, dan satu-satunya Dzat yang  patut untuk kita jadikan tempat bersandar. Sungguh tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Alloh . Dari itu seorang makhluk tidak dapat memaksakan kehendak dan keinginannya. Karena semua itu tak akan pernah terjadi, kecuali jika Alloh menghendakinya untuk terjadi.

lafaz insya Alloh“Dan tidaklah kalian menghendaki (suatu kejadian untuk terjadi) kecuali jika dikehendaki oleh Alloh Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Sesungguhnya sebelum perkara yang akan kita kerjakan itu terjadi, kita semua tidak mengetahuinya, akankah kita pasti melakukannya atau tidak? Boleh jadi kita berubah pikiran lantas membatalkannya. Boleh jadi kita lupa lantas lengah dari apa yang kita janjikan. Boleh jadi saat itu kita ingat namun ada urusan yang lebih penting darinya. Boleh jadi kita sadar akan janji itu namun kita sedang berada di tempat yang jauh dari tempat kejadian yang kita harapkan. Boleh jadi maut telah menjemput kita.

Insya Alloh Sebagai Ungkapan Berserah Diri

Seandainya kita mengetahui (seandainya saja), bahwa hal yang kita harapkan itu akan terjadi, maka sebagai adab yang agung dari seorang hamba kepada Alloh ia akan ucapkan “insyaa Alloh” dalam pengkhabaran dan janjinya itu. Alloh menggunakan kata insya Alloh dalam hal yang pasti akan terjadi sebagaimana dalam ilmu-Nya, sekaligus Dia Maha Kuasa untuk mewujudkan kehendak-Nya itu (fa‘aalun limaa yuriid), diantara maknanya agar hamba-hamba-Nya menggunakannya dalam hal-hal yang tidak diketahuinya dan hal-hal yang belum tentu mereka sanggupi itu. Perhatikan ayat berikut: “Sesungguhnya Alloh akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya yang sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kalian pasti akan memasuki al Masjidil Haram, insya Alloh dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala danmengguntingnya, sedang kalian tidak merasa takut. Maka Alloh mengetahui apa yang tiada kalian ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. “ (QS. Al Fath: 27)

Dari itu wajib bagi kita untuk mengucapkan “insyaa Alloh” dalam segala yang kita kabarkan akan terjadi atau yang kita janjikan, karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan kita juga makhluk yang lemah. Ketika suatu kali Rasululloh menjanjikan bahwa wahyu akan segera turun tanpa mengucapkan insyaa Alloh, maka wahyu pun terhambat beberapa waktu, lantas turunlah firman-Nya: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi! Kecuali (dengan menyebut) insyaa Alloh.” (QS. Al Kahfi: 23-24)

Pengakuan terhadap kelemahan diri yang disertai dengan pengakuan terhadap kekuasaan Alloh yang tidak terbatas adalah kemuliaan dan kekuatan. Ucapan insya Alloh sama sekali bukanlah bentuk dari kehinaan di hadapan Alloh ataupun di hadapan makhluk-Nya. Bahkan, ucapan dan pengakuan yang ada di dalam kalimat itu merupakan salah satu dari jalan-jalan keberkahan dan kesuksesan. Sehingga banyak kisah—kisali diabadikan untuk memberikan pelajaran berharga akan keagungan, akan pengakuan terhadap berlakunya kehendak Alloh dengan ucapan “in syaa Alloh”.

Kalau kita membaca surat Al-Baqarah dari ayat 67 sampai ayat 71 kita akan dapati kisah Bani Israel yang diperintah untuk menyembelih sapi betina. Namun mereka selalu mendapati kesulitan untuk mendapatkannya karena pertanyaan-pertanyaan mereka yang justru mempersulit mereka sendiri. Akhir kata, setelah mereka mengucapkan “Sesungguhnya kami insya Alloh akan mendapatkan petunjuk” Barulah mereka dapat berhasil menunaikannya. Nabi Ibrahim memberitahukan kepada nabi Ismail bahwa dirinya telah diperintah Alloh untuk menyembelihnya. Nabi Ismail pun menjawab dengan ucapan, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Sebuah ujian yang begitu berat itu ternyata bisa diterima dengan sabar, diantaranya berkat penyandarannya kepada masyiah (kehendak) Alloh dengan ucapan insya Alloh. Sebaliknya pengakuan akan kekuatan diri dan meninggalkan pengakuan dan penyandaran atas kekuasaan Alloh adalah kesombongan yang hina dan kelemahan. Sekuat apapun kita, adalah lemah di hadapan-Nya. Sama sekali bukan wewenang kita untuk memastikan segala yang kita inginkan.

Di dalam surat Al-Qalam ayat 17 sampai dengan 33 Alloh swt menceritakan suatu kaum yang bakhil. Mereka memastikan bahwa hari esok akan panen raya tanpa mengucapkan insya Alloh. Maka malamnya pun kebun mereka diliputi oleh bencana besar yang meludeskan segalanya.

Rasululloh bersabda, “Telah berkata Sulaiman bin Dawud, “Aku akan menggilir malam ini terhadap 70 wanita (diriwayat  lain 90) agar setiap wanita dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan berjihad di jalan Alloh.” Maka seorang malaikat berkata kepadanya. Ucapkanlah: insyaa Alloh!” Maka, Sulaiman tidak mengucapkan insya Alloh. Maka malam itu ia menggilir wanita-wanita itu yang ternyata tidak ada yang melahirkan kecuali satu saja. Lahirnya pun hanya separuh bayi. Rasululloh bersabda. “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Ia mengucapkannya maka tak akan batal sumpahnya dan terwujudlah hajatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda, bahwa Ya’juj dan Ma’juj senantiasa berupaya untuk menerobos benteng Dzul Qarnain. Namun ketika sudah tipis mereka berkata, besok kita akan lanjutkan. tanpa mengucapkan insya Alloh. Maka esok harinya mereka kembali dan mendapati benteng itu utuh kembali. Dan begitulah yang selalu terjadi. Kelak, ketika telah dekat saat keluar mereka sebelum kiamat, mereka akan katakan, besok kita akan teruskan insyaa Alloh. Maka mereka mendapati benteng itu dalam keadaan tetap tipis seperti kemarin, dan keluarlah mereka.

Memang, kita tidak melihat Alloh sekarang. Namun keimanan terhadap yang ghaib sebagaimana keyakinan seseorang mengimani yang nyata adalah bukti keteguhan imannya. Ucapan insya Alloh yang diucapkan penuh dengan kesadaran adalah diantara bukti-bukti itu. Adalah adab yang agung antara hamba beriman kepada Robbnya. Adalah bentuk udzur jika terjadi sebaliknya, hingga ia tiada berdosa. Adalah bukti kesadaran kita akan kelemahan kita dan penyandaran diri kita kepada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sekaligus salah satu jalan keberkahan dalam hidup kita.

Tengoklah orang tua penuh adab yang hampir tutup usia di negeri Madyan, ia berkata kepada Musa, “Engkau akan dapati aku insyaa Alloh termasuk orang—orang yang shalih.” (QS. Al Qashash: 27). Maka, dengan ucapan insya Alloh, semoga penulis dan para pembaca berikut keluarganya termasuk orang-orang yang shalih pula. Aamiin.

[ad code=2 align=center]

Updated: 06/07/2012 — 1:43 pm
FADIL MUBAROK BLOG © 2014 Frontier Theme